My First Love is My Greatest Betrayal
Debur ombak membuyarkan lamunanku. Semilir angin laut menyingkapkan
kegalauan hatiku. Kutermangu seorang diri di sudut pesisir pantai.
Ditemani rimbunan lambaian daun kelapa yang tersingkap sang bayu.
Menanti sang surya kembali ke peradabannya. Dengan semburat sinar orange
di singgasana angkasa. Aku tersenyum terbayang sosok pria yang
seharusnya tak kulamunkan. Rupa nan menawan terbayang-bayang di anganku.
Terlihat jelas di langit senja. Aku berpikir, tak pernah aku
membayangkan sesosok pria hingga membuatku lupa akan segala sesuatu yang
kuanggap itu sangat penting. Suara lembut sayup-sayup terngiang di
telingaku membuat lamunanku pudar. Kubalikkan mukaku. Terlihat sosok
wanita memanggilku dengan seorang pria di sisinya. Aku tersenyum manis.
Segera kulangkahkan kaki menuju mereka berdua. Kutatap mata mereka.
Terlihat binar kebahagiaan terpancar dari keduanya.
“ Hey, Vita, apa kabar ? “ sapa Lia sembari memelukku.
Dengan senyum di sudut bibir aku pun membalas pelukannya. Sesaat,
kembali terbias wajah sesosok pria yang selama ini aku lamunkan. Mataku
menyudut tajam ke arah mata indah seorang pria yang ada di sisi
sahabatku. Bak melayang ragaku menatap indah matanya. Laksana bertemu
sesosok pangeran idaman hati yang telah lama di nanti.
“Hey, what are you think ?” bentak Lia memudarkan lamunanku.
“Ini Vino kekasihku, Vita. Vino, ini Vita sahabat terbaikku.”lanjutnya.
Pria itu menjulurkan tangan dan aku pun demikian. Terasa erat
genggamannya. Serasa tak mau lepas darinya. Kutatap matanya dalam-dalam.
Mencoba berbicara dengan hatinya. Menikmati sorot indah matanya dan
erat genggamannya ternyata tak lama. Lia menarik jemari Vino dan
tersenyum kepadaku. Kembali hanya kubalas dengan senyuman. Kami bertiga
kemudian turun ke pesisir pantai. Berjalan bertiga tak membuat hatiku
nyenyak. Hanya ingin berdua dengan pria itu. Jatuh cinta dengan pria
yang sangat sempurna itu memang sulit rasanya. Lain dengan hatiku. Hanya
sejenak menatap matanya, hati ini bak berkata cinta, berkata my first love. Aku tak memikirkan yang lain. Hanya pria itu yang kini ada di benakku.
Di sudut pantai kami singgah di bawah rimbuanan pohon kelapa dengan
sorot lampu taman di kedua sisinya. Beribu kata atau berjuta kata entah
berapa meluncur begitu saja dari bibir mereka berdua. Aku hanya membisu
mendengarkan ocehan mereka yang tak disangka membuat hati ini menguap
panas. Tak lama kemudian, aku terasa dirundung cemburu. Mataku yang
sedari tadi menatap indah sang surya yang tengah kembali ke
peradabannya, terpaksa berbalik arah tersudut menatap mereka berdua
dengan bibir bergalut mesra di sisiku.Rasanya seperti nikmat saat pria
itu mengecup sahabatku dan anganku tentang itu kubiarkan muncul begitu
saja. Dengan bergalut dan melingkarkan tangan satu sama lain mereka
sangat menikmatinya dan tak ada rasa malu sedikitpun dengan aku yang
berada di sampingnya. Mungkin budaya Eropa selama dua tahun telah erat
mendekapnya.
Tak kuat aku menatap itu semua dan bermaksud meninggalkan mereka
berdua. Aku berdiri, namun dia tiba-tiba menarik tangannku dan
mempersilakan aku duduk kembali menemani kekasihnya karena ia akan
menemui bundanya sebentar.
Aku berpikir inilah kesempatan terbaikku. Aku berusaha menyita
pandangannya dengan pakaian yang melekat di tubuhku dan wajah yang
berada indah di kepalaku. Kusingkap perlahan dan sedikit beberapa
guratan yang ada di rokku. Aku tersenyum dengan manis menatap metafora
senja. Dan itu pun berhasil. Pria itu memandangku dengan mata indahnya
yang berbinar-binar.
“Vita, boleh aku minta kontakmu ?” tanyanya dengan membalikkan tubuhku menghadapnya.
Aku tersenyum dan perlahan mengulurkan telepon genggamku ke
arahnya. Tak lama kemudian pria itu mengembalikan telepon genggamku
tersebut. Kembali kusingkap lebih pendek bajuku dengan maksud agar pria
itu tergoda kepadaku. Mengejutkan, dan mengagetkan. Kubiarkan saja pria
itu membelai lembut rambutku dan perlahan mengecup bibir manisku.
Rasanya seperti di singgasana surga. Anganku yang baru saja terbayang
ternyata telah terjawab dengan sempurna. Kurasa nafasku sesak dan
kulepaskan kecupannya dari bibirku. Kulepaskan pelukannya dari tubuhku.
Aku tersenyum kepadanya. Dia pun dengan manisnya membalas senyumanku.
Tak lama kemudian ia kembali memeluk tubuhku dengan eratnya. Kubalas
pelukannya dengan sangat erat. Bibirnya kembali mengecupku. Kupejamkan
mataku. Di tengah indahnya senja, kedua insan saling berpagutan mesra
seakan dunia hanya milik kami. Namun, aku tersentak saat tiba-tiba dia
melepas kenikmatan itu semua. Ternyata sahabatku sudah berjalan dari
jauh. Aku berpamitan kepada pria itu untuk pergi kembali ke penginapan
dan aku berpesan menyampaikan hal tersebut kepada kekasihnya.
Langkahan kakiku begitu cepat. Diiringi senyum aku melangkah
seorang diri. Terbayang-bayang apa yang baru saja aku lakukan dengan
pria yang selama ini singgah dalam anganku. Kubaringkan tubuhku. Kutarik
nafas perlahan. Kupejamkan mata senduku. Terbayang sosok pria itu
kembali. Teringat peristiwa di sudut pantai di indahnya metafora senja.
Terlelap aku dalam kebahagiaan raga dan jiwa. Berselimut mimpi yang
kuharap muncul sosok pangeranku kembali.
Tak lama kupejamkan mata, terdengar suara dering telepon
genggamku. Sembari memejamkan mata. tanganku meraba mencari asal dering
suara tersebut. Kubuka mata perlahan, terasa berat kurasakan. Namun,
aku tersentak saat mengetahui kontak Vino pria itu sedang menelponku.
Segera kubenahi diri.
“Hallo, Vita, ini Vino. Ada waktu luang bertemu denganku ?” tanya Vino samar-samar.
Aku tersentak mendengar kalimat yang telah meluncur dari bibir
manis pangeranku. Rasa tak percaya perlahan muncul merambat ke ragaku.
Seolah aku tak kuasa untuk menolak tawaran date pertama kali dengan lelaki pujaanku.
“Ii..iiya, ada kok. Sekarang ?” tanyaku gugup.
“Kalau bisa, ya, sekarang. Aku tunggu di Caffe Metta Dewata.” jawabnya.
“Iii..iiya, tunggu sebentar, ya.”
Segera kumatikan telepon dan bergegas mengambil handuk. Aku
mengejar waktu. Ingin sekali rasanya cepat bertemu dengan pria itu. Tak
peduli apa pun itu. Kuriasa wajahku perlahan. Kupoleskan bedak di
wajahku dengan merata. Kurias dan kurias wajahku sedemikian rupa.
Kubelai perlahan rambutku. Kurapikan hingga rasa puas mendekapku.
Tersenyum kepada pantulan ragaku sendiri. Segera kupilah gaun. Hingga
pilihanku jatuh di gaun hitam yang kontras dengan kulit putihku. Gaun
dengan bawahan di atas lutut, dan tanpa lengan serta melekat ketat indah
di badanku sehingga terlihat bentuk tubuhku. Perlahan kulangkahkan kaki
dengan senyum. Hati terasa berdebar-debar menemuii pangeranku. Gugup
dan gugup.
Terlihat pria itu sedang menunggu di sudut caffe yang
sunyi. Kuhampiri dia. Namun, terasa ragaku tak ingin menemuinya. Entah
mengapa aku tak tahu. Terasa beku untukku berjalan menghampirinya.
Kuhembuskan nafas perlahan dan rileks sejenak seraya memikir pria itu. Tanpa pikir panjang kendala itu dapat kuatasai. Kuhampiri dia dan perlahan singgah di sisinya.
Indah dan sangat indah. Pria itu menatap ragaku berbinar-binar
sembari meluncurkan pujian pada penampilanku. Seraya terombang-ambing
tubuhku di air surga. Aku sangat bahagia mendengar apa yang ia katakan.
Canda tawa mengisi date terindahku malam itu. Sangat mengesankan ketika
dia mengecup keningku seraya mengucap kata cinta dan sayang. Hatiku
bergetar tak menentu.
“Ough…! Thanks God ! My first love.” gumamku dalam hati.
“Vin, you are my first love.” kataku berbinar-binar.
“Really ?” sentaknya.
“Really.” jawabku tersenyum bahagia.
Ragaku benar-benar melayang. Terombang-ambing sang bayu di
singgasana surga. Pangeran yang selama ini singgah dalam anganku, muncul
begitu saja di pelupuk mataku. Menghiasi hati ini yang sunyi. Memberi
kehangatan pada mata ini yang bergetar membeku. Mengisi kesunyian jiwa
menunggu belaian mesra cinta yang sangat kunanti.
Hari-hari kujalani berdua. Tiada sedetikpun waktu yang lenyap tanpa
senyum indah dia. Aku benar-benar tak mempedulikan apapun. Entah itu
sahabatk, entah itu orang tuaku ataupun harga diriku. Hanya
bayang-bayangnya yang mengelilingi pikiranku. Aku seperti terhipnotis
dengan belaian mesra cintanya, senyum indahnya, dekapan rasa sayangnya.
Pikiranku hanya tertuju pada satu orang yakni Vino pria pujaanku. Tak
bisa aku lepas dari dekapannya. Tak bisa aku hilang dari anganku
tentangnya, karena dia pria yang selama ini aku damba-dambakan. Hingga
suatu saat karma itu mengikatku. Kehancuran hati. pudar cinta pertamaku.
Ketika kuberpagut mesra di sudut pantai di dinginnya malam di sunyinya
malam. Kenikmatan yang sudah biasa aku lakukan dengan pria sejatiku Vino
terpaksa terpotong dan lenyap dengan kehadiran kekasih resminya Lia,
sahabatku sendiri.
Deraian air mata mengalir dari lekukan wajah manis Lia tatkala
menyaksikan insan yang sangat ia sayangi berpagutan mesra dengan
sahabatnya sendiri. Sahabat sedari kecil, sahabat suka, sahabat duka,
sahabat yang selalu mengerti mengkhianatinya. Sungguh ku tak tahu apa
yang harus aku lakukan. Aku..aku bingung, aku bodoh, aku…aarrghhhhh!
Amarahku memuncak tatkala Lia mendaratkan tangannya dengan keras di
pipiku. Mataku seolah menatap tajam melihatnya. Kubangkitkan ragaku.
Kuhampiri dia yang tengah beraliran air mata. Kutengadahkan kepalaku.
Kuacungkan telunjukku dan kudorong kuat-kuat muka lusuhnya.
“Lia..Lia ! Kenapa ? Marah, he ?(kudorong mukanya). Marah kau lihat
aku mesra dengan kekasihmu. Hatimu ke mana ? Otakmu ke mana ? Pergi,
ya, ke Laut ? Lihatlah kekasihmu, lelakimu, priamu yang sangat kau
cintai butuh waktu. Tak hanya butuh perhatianmu, tak hanya butuh
cintamu. Mana pengertianmu ? Lihatlah, berpaling, kan, dia denganku. Ini
berarti aku lebih segalanya darimu. Lebih cantik atau lebih apalah. Busshhiittt…. cuih !” luapanku sembari menamparnya dan berludah di dadanya.
Sejenak Lia terdiam membisu. Demikian juga dengan Vino. Sedari tadi
dia hanya terunduk lesu di bangku. Tak menyempatkan waktu sedikitpun
untuk memandang kami yang tengah mamuncak amarahnya.
“Vita..Vita sahabatku dari kecil. Sahabatku…sahabatku ? Apa sahabat
anjing ? Benar-benar kau ini. Sama aja dengan anjing. Seharusnya kau
berpikir sebelum kau melakukan ini semua. Anjing, ya !” teriaknya
sembari memegang pipinya dan meninggalkan ami berdua.
“ Hey… yang anjing itu kamu !” sahutku.
Aku tak memikirkan semuanya. Apa aku yang salah. Kuteguk
dalam-dalam bir beberapa botol. Namun, tiba-tiba aku menangis. Teringat
masa-masa indah bersama Lia. Teringat saat dia merelakan orang yang dia
suka demi aku bahagia. Teringat saat dia mendekapku ketika aku menangis
merasakan sakitnya hati. Aku jahat. Aku kejam. Sahabat suka, sahabat
duka, sahabt yag selalu menemaniku tatkala aku tengah kesepian, sahabat
yang mendekapku tatkala kusedih, dan sahabat yang rela berkorban demi
aku bahagia lenyap karena keegoisanku. Lenyap karena kecerobohanku.
Aku..aku…aku tak pantas hidup. Mengapa kulakukan ini semua. Aarrgghhhh…!
Aku benar-benar menyesal. Mengapa kulontarkan kata-kata kasar
kepadanya. Apa balasanku atas apa yang telah ia lakukan dulu kepadaku.
Sesaat kucari-cari benda yang sangat penting bagiku. Kudengarkan
dendang lirih alunan suara kami tatkala kecil dengan iringan musik
sederhana. Kunyanyikan perlahan dengan berderaian air mata. Tak lama aku
bernyanyi, terdengar ketukan pintu. Kuberjalan dengan sempoyongan
menghampiri pintu dan perlahan kubuka. Tak ada seseorang di luar.
Namun, saat kutundukkan kepalaku. Terlihat sepucuk surat berceceran
darah. Kubuka surat itu perlahan.
Teruntuk,
Vita sahabat terbaikku.
Vita, maaf kata-kata kasarku tadi. Maaf sekali. Kamu benar, aku
yang anjing. Aku tak bisa mengerti perasaanmu. Aku yang salah. Aku tak
bisa mengerti apa mau Vino. Vita, kita sahabat. Kita sahabat selamanya.
Aku yakin kita takkan terpisahkan. Tapi entah aku tak tahu. Mungkin
sekarang atau beberapa menit bahakan jam lagi aku sudah berjalan menuju
neraka karena menyakitimu Vita.
Vita ingat, kan, masa-masa dulu saat kamu menangis karena mantan
kamu yang dulu ? Lucu banget , Vit. Ingin sekali aku tertawa tapi aku
takut kamu marah. Tapi, saat aku menangis kemarin lucu juga, kan, bahkan
lebih lucu dari kamu.
Jaga hatimu untuk Vino. Jangan lupakan aku, Vit. Aku sungguh
menyayangimu. Mungkin kamu tidak. Tapi ini harapanku dari dulu. Bye to
forever !
Tertanda,
Lia
Sekejap segera kulangkahkan kaki berlari di tengah derasnya hujan.
Aku yakin surat itu dari Lia. Aku yakin Lia masih hidup. Aku yakin Lia
masih ada di dekatku. Aku menangis tak henti-henti. Terus berlari
meneriakkan Lia, mencari Lia.
Aku tersentak. Rasa tak percaya mengelilingiku. Kulihat rombongan
warga sedang berkerumun. Pikiranku sudah ke mana-mana. Apa itu Lia.
Segera kupecahkan kerumunan itu dan kutemui sahabat yang aku sayangi
berlumuran darah. Segera kupeluk erat-erat Lia.
“Lia… maafkan aku. Lia jangan pergi, Lia, maafkan aku. Aku benar-benar menyesal. Liaaa !! “ teriakku sembari menangis.
Aku benar-benar tak percaya ia tiada. Ini semua salahku. Aku sungguh sayang dia. Aku benar-benar menyesal. Sangat menyesal.














0 komentar:
Posting Komentar