Bukan Ungkapan Untukku
Iya, aku pernah mendengar itu. Walau hanya dua detik saja terucap, aku akan tetap mengingat itu. Walau faktanya aku menangis, tapi perihnya itu takkan aku hubris. Aku sadar, tak pantas aku hidup di hatimu. Jangankan hidup, singgah semenit saja aku tak bisa dan takkan pernah bisa, karena aku hanya sebutir mutiara hitam yang pekat. Memang aku mutiara, karena aku selalu ada di setiap kau ada, di setiap kau bicara. Iya, benar aku mutiara tapi aku hitam bahkan aku pekat, karena aku bukan seseorang yang pantas ada di hidupmu. Mungkin kau tak menyadari betapa besar, betapa tulus aku menyanyangimu setelah belasan tahun aku berada di hidupmu. Bukan sebagai kekasih atau sahabat karibmu, tapi kurasa aku hanya seseorang yang tak berarti. Jelas tak berarti, sekarang apa kamu sadar dan apa kamu merasakan semuanya. Awalnya aku dan kamu anggap ini semua sebuah persahabatan. Tapi, setelah kau kenal dia, aku kau buang begitu saja. Kau butuh aku, aku mendengarnya aku membantunya. Aku butuh kamu, kau perggi kau lari. Aku tak punya kuasa untuk memarahimu atau melarangmu, karena itu hakmu.
“Hei, Shila. Aku punya sesuatu untukmu.” panggilnya kepadaku.
“Apa, Dit? Apa ini?” jawabku.
Ini terjadi sepuluh tahun yang lalu, aku masih sepuluh tahun Adit pun sama. Kami berada di atas bukit, duduk sembari melihat indahnya panorama dunia. Lukisan itu menjadi saksi apa yang dia ucap kepadaku. Sepatah dua patah kata yang ia susun jadi kalimat bermakna, dan aku anggap itu sebuah promise atau janji.
“Ini aku buat sendiri. Ini untukmu satu, aku juga punya satu. Disimpan, ya. Ini untuk persahabatan kita. Sampai besok kita besar, sampai besok kita menikah, atau kita sudah di surga kita tetap sahabat, kan? Aku janji, aku akan ada di setiap kamu bicara, bahkan menangis aku pasti ada. Aku janji, deh. Kamu juga janji, ya?” ucapnya.
Aku menjawabnya dengan senyum. Karena aku takut tak bisa menjaga janjiku. Dan yang aku takutkan itu terjadi. Ia memberiku sebuah gelang bertuliskan namanya, sampai sekarang masih aku pakai. Tapi, faktanya Adit sekarang 1800 dari ucapannya dari janjinya. Kepedihan itu dimulai kala aku dan Adit berada di bangku SMA.
“Adit, kamu mau ke mana? Tunggu aku !” teriakku.
“Ayo, cepatlah !” balasnya.
“Hey, Adit. Aku mau bicara penting sama kamu, hey, berhentilah! Di kelas kita akan ada murid baru .” teriakku sembari mengejarnya.
Ia berhenti sejenak, aku pun juga. Mungkin ia berpikir tentang murid baru itu, sedangkan aku terengah-engah mengejarnya. Dua menit kemudian, ia menghampiriku dengan senyuman manisnya. Tersirat rasa bahagia pada dirinya. Mungkin ia memikirkan murid baru itu cantik. Maklum, ia terkenal suka memainkan hati wanita.
“Kamu bilang ada murid baru di sini? Siapa namanya? Pasti ia perempuan dan pasti ia cantik. Cepat katakan padaku. ” katanya penasaran.
“Uh..uh. Sabar, sabar, ya. Namanya Ines, dia sahabatku di Bogor. Nanti aku kenalkan ke kamu. Uh, aku capek mengejarmua.” Kataku.
Dia langsung menarik lenganku, dan memaksaku untuk mengikutinya. Candaan Adit kala kami melangkahkan kaki membuatku merasakan hal yang berbeda. Dasar hati ini tersentuh dengan kata-kata lembutnya, syaraf otakku tak kuasa memikirkan sesuatu yang lebih pada diri Adit. Sepertinya hati ini berkata ingin memikilinya walau itu mustahil.
“Shilla ! Aku rindu kamu !” teriaknya sembari lari menghampiriku.
“Ines !” balasku yang juga berlari menghampirinya.
Kami berpelukan karena sudah sepuluh tahun lebih kami tak bertemu. Hanya dengan jejaring sosial kami bisa melepas rindu. Karena terlalu lamanya kita berpelukan, hingga
aku tak mendengar suara bel masuk. Adit pun segera menghampiriku dan berusaha melepaskan pelukan itu.
“Hey, ayo cepat. Ini sudah bel masuk.” Katanya dengan menarik-narik tanganku yang masih aku lingkarkan di tubuh Ines.
“Iya, iya. Ayo, Nes, kita masuk ke kelas.” Ajakku dengan menarik tangan Ines.
Terlihat Adit dan Ines bertatapan beberapa detik sebelum aku menarik lengan Ines. Amarahku sedikit meluap, entah mengapa. Sepertinya aku tak terima melihat sepasang mata indah yang aku inginkan saling pandang dengan sepasang mata indah lain.
“Anak-anak. Sekarang kita kedatangan murid baru dari Bogor. Ines, masuk, Nak.” Kata Bu Fitri.
Beberapa pasang mata terfokus dengan indahnya paras bidadari itu. Kecuali aku, sepertinya terselip rasa resah. Resah jika hati Adit terbuka kuncinya dengan melihat Ines. Benar aku tak bisa membuka hati Adit dari lalu, tapi setidaknya aku pernah mengobati luka perih pada hatinya. Adit, kulihat matanya yang sedari tadi tanpa kedip melihat Ines yang tengah berdiri memperkenalkan diri di depan kelas. Tak hanya Adit, semua lelaki di kelasku pun demikian. Nampaknya keanggunan Ines telah menyihir batin mereka.
Jam istirahat tiba, lusa aku makan hanya berdua dengan Adit. Mulai detik ini, aku belajar menghargai seseorang. Belajar menerima Ines di tengah-tengah kami. Awalnya aku biasa, memang biasa. Namun, setelah aku merasakan ada yang mengganjal, ialah kala Adit mengelus rambut hitamnya dengan kasar tapi terselip makna mesra di tengahnya hati ini terasa seperti mengeras. Dan aku merasakan sebagai orang ketiga kala itu, bukan Ines sebagai orang ketiga. Hatiku semakin mengeras dan memanas, kala Adit mengkodeku dengan matanya dengan maksud menyuruh aku pergi membiarkan mereka berdua. Sebagai sahabat yang baik aku terpaksa meninggalkan mereka melihat orang yang aku sayang memaksaku pergi dengan tujuan dengan orang lain.
“Ines, aku ke kelas dulu, ya. Ivan memanggilku.” Kataku sembari bangkit dari bangku.
“Aku ikut.” Halus jawabnya.
Aku tinggalkan mereka, sebelumnya aku memberi hadiah gelengan kepala kepada Ines. Aku pergi, berlari, dan meringis menahan perih.
Hari itu, aku tak langsung pulang. Seperti biasa, bukit hijau itu tempat singgahku. Dari kecil aku biasa mencurahkan semuanya, semua baik masalah yang telah mencambuk nadiku ataupun mencium manis nadi ini. Empat tahun lalu, kala ibuku tiada aku tak ikut pergi ke makam beliau. Justru aku ke bukit ini. Menjerit sekeras mungkin, menangis sesesak mungkin, merintih sekuat mungkin. Hanya alam ini yang Tuhan yang bisa membantu semua. Hari itu sampai senja aku disana. Handphone selalu bergetar, tak aku hubris. Karena aku tahu itu pasti dari Adit.
Itu yang sepercik sakit, yang lebih sakit lagi tiga bulan setelah itu. Kala aku tengah menangis, di bukit itu juga. Penyebab tangisan itu ialah ketidaksatuanku dengan Ayah karena Ibu Tiriku. Ayah memarahiku dan mengusirku pergi, karena aku berani menampar ibu tiriku sendiri. Aku berani karena aku benar. Beliau berusaha membakar foto ibuku yang menempel indah di dinding segala ruang secara diam-diam. Aku yang tahu kelakuan busuknya dengan tegasnya menamparnya tanpa satu kata pun yang meluncur dari mulutku. Masalah itu aku coba curahkan dengan Adit. Mulanya, aku memberitahunya agar datang ke bukit karena aku butuh dia. Senja aku datang, hingga tengah malam tak datang juga. Sungguh kecewa, dan sangat kecewa. Esoknya, Ivan cerita kepadaku kalau semalam ia tengah dinner dengan Ines tanpa sepengetahuanku. Mulai dari peristiwa itu, aku sedikit menjauh darinya. Menjauh, aku tahu kesensitifan batinku seberapa, aku tahu perihnya tak dihargai itu seberapa. Aku tahu tingkat ketabahanku.
“Terimakasih Adit, hari-hari lalu sampai kemarin. Aku bahagia punya sahabt sepertimu. Ada di kala ku butuh, ada di kala ku berperih. Jangan lupakan aku kawan. Jangan sontak kala aku setiap hari beberapa mili hilang dari hidupmu, itu semua mungkin karena salahmu. Mungkin. Semoga berhasil untuk kamu dan Ines.” Goresan pensil pada batu besar di bukit itu.
Apa yang aku goreskan benar, beberapa mili aku telah menjauh dari Adit. Hingga pada suatu saat di bukit hijau ini, Adit menemuiku. Di kala senja sepuluh menit lagi menyapa, goresan siluet orange menghiasi pertemuan kami berdua. Adit menatapku tajam dengan mata indahnya yang berbinar, membuat jantungku benar-benar berdebar. Kedua tangannya perlahan mengambil tanganku.
“Aku sayang kamu.” Ungkapnya lembut.
Perlahan luhku menetes mendengarnya. Aku tak kuasa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga tiba-tiba sebuah kalimat meluncur begitu saja tanpa permisi.
“Aku juga sayang kamu.” Lenguhku terengah-engah.
“Yes !’ teriaknya dengan bahagia.
Kata-kata itu membuatku melayang. Seakan aku menjadi seorang wanita yang dilamar seorang pangeran senja itu. Seakan aku meneguk segelas alkohol. Membuatku melupakan kepedihan-kepedihan lalu yang telah dirajut Adit di batinku.
“Shilla, itu yang aku tunggu. Aku tak tahu perasaan Ines seperti apa jadinya. Semoga seperti ini. Aku telah menunggu seorang wanita dan itu Ines. Aku sayang dia Shilla. Terimakasih, ya. Aku pergi dulu, salam buat ayahmu.” Tusukknya kepadaku.
Aku balasnya dengan senyuman kecut. Selepas ia meninggalkanku saat itu, aku di bukit sendiri. Menangis , dan merintih. Seakan ragaku ingin aku terjunka dari bukit ini. Aku kira itu semua kejujurannya yang membuat kepedihan yang telah ia rajut di batinku terlepas sudah karena kalimat indah tersebut.
“A..a..ku tak habis pikir, apa yang ada di pikiranmu. Terlalu tega, iya memang aku ini tak secantik bidadari itu. Aku tak bisa menaklukkan hatimu, karena aku tak bisa jadi yang kau inginkan. Tapi setidaknya, kamu bicara baik-baik mengenai ini. Kamu seharusnya lakukan ini dari dulu, atau lebih baik kamu bercurah tentang rasa sayang palsumu itu. Aku sudah lama hidup di sampingmu. Aku tahu semuanya tentangmu. Kamu butuh aku tak jauh, aku tak melenguh. Aku bahagia jika kau masih butuh aku. Tapi tak seperti ini caranya. Selama bertahun-tahun aku menemanimu ternyata ini yang kau beri. Kepedihan yang amat pekat. Tega. Kamu tega Adit, kamu tega !” sesalku.
“Aku sayang kamu Adit, aku sayang kamu !” teriakku.
Yang pasti, aku sudah mengucapkan apa yang aku rasa selama ini. Bahwa aku sayang Adit. Walau kepedihan itu masih saja menyelimuti batinku, aku coba tenang. Aku coba tabah, suatu saat Adit pasti merasakan apa itu sakit.
Lilis Ambarwati/ XI IPA 2/ SMAN 1 Boyolali, Jln Kates 08 Kode pos: 57316
Iya, aku pernah mendengar itu. Walau hanya dua detik saja terucap, aku akan tetap mengingat itu. Walau faktanya aku menangis, tapi perihnya itu takkan aku hubris. Aku sadar, tak pantas aku hidup di hatimu. Jangankan hidup, singgah semenit saja aku tak bisa dan takkan pernah bisa, karena aku hanya sebutir mutiara hitam yang pekat. Memang aku mutiara, karena aku selalu ada di setiap kau ada, di setiap kau bicara. Iya, benar aku mutiara tapi aku hitam bahkan aku pekat, karena aku bukan seseorang yang pantas ada di hidupmu. Mungkin kau tak menyadari betapa besar, betapa tulus aku menyanyangimu setelah belasan tahun aku berada di hidupmu. Bukan sebagai kekasih atau sahabat karibmu, tapi kurasa aku hanya seseorang yang tak berarti. Jelas tak berarti, sekarang apa kamu sadar dan apa kamu merasakan semuanya. Awalnya aku dan kamu anggap ini semua sebuah persahabatan. Tapi, setelah kau kenal dia, aku kau buang begitu saja. Kau butuh aku, aku mendengarnya aku membantunya. Aku butuh kamu, kau perggi kau lari. Aku tak punya kuasa untuk memarahimu atau melarangmu, karena itu hakmu.
“Hei, Shila. Aku punya sesuatu untukmu.” panggilnya kepadaku.
“Apa, Dit? Apa ini?” jawabku.
Ini terjadi sepuluh tahun yang lalu, aku masih sepuluh tahun Adit pun sama. Kami berada di atas bukit, duduk sembari melihat indahnya panorama dunia. Lukisan itu menjadi saksi apa yang dia ucap kepadaku. Sepatah dua patah kata yang ia susun jadi kalimat bermakna, dan aku anggap itu sebuah promise atau janji.
“Ini aku buat sendiri. Ini untukmu satu, aku juga punya satu. Disimpan, ya. Ini untuk persahabatan kita. Sampai besok kita besar, sampai besok kita menikah, atau kita sudah di surga kita tetap sahabat, kan? Aku janji, aku akan ada di setiap kamu bicara, bahkan menangis aku pasti ada. Aku janji, deh. Kamu juga janji, ya?” ucapnya.
Aku menjawabnya dengan senyum. Karena aku takut tak bisa menjaga janjiku. Dan yang aku takutkan itu terjadi. Ia memberiku sebuah gelang bertuliskan namanya, sampai sekarang masih aku pakai. Tapi, faktanya Adit sekarang 1800 dari ucapannya dari janjinya. Kepedihan itu dimulai kala aku dan Adit berada di bangku SMA.
“Adit, kamu mau ke mana? Tunggu aku !” teriakku.
“Ayo, cepatlah !” balasnya.
“Hey, Adit. Aku mau bicara penting sama kamu, hey, berhentilah! Di kelas kita akan ada murid baru .” teriakku sembari mengejarnya.
Ia berhenti sejenak, aku pun juga. Mungkin ia berpikir tentang murid baru itu, sedangkan aku terengah-engah mengejarnya. Dua menit kemudian, ia menghampiriku dengan senyuman manisnya. Tersirat rasa bahagia pada dirinya. Mungkin ia memikirkan murid baru itu cantik. Maklum, ia terkenal suka memainkan hati wanita.
“Kamu bilang ada murid baru di sini? Siapa namanya? Pasti ia perempuan dan pasti ia cantik. Cepat katakan padaku. ” katanya penasaran.
“Uh..uh. Sabar, sabar, ya. Namanya Ines, dia sahabatku di Bogor. Nanti aku kenalkan ke kamu. Uh, aku capek mengejarmua.” Kataku.
Dia langsung menarik lenganku, dan memaksaku untuk mengikutinya. Candaan Adit kala kami melangkahkan kaki membuatku merasakan hal yang berbeda. Dasar hati ini tersentuh dengan kata-kata lembutnya, syaraf otakku tak kuasa memikirkan sesuatu yang lebih pada diri Adit. Sepertinya hati ini berkata ingin memikilinya walau itu mustahil.
“Shilla ! Aku rindu kamu !” teriaknya sembari lari menghampiriku.
“Ines !” balasku yang juga berlari menghampirinya.
Kami berpelukan karena sudah sepuluh tahun lebih kami tak bertemu. Hanya dengan jejaring sosial kami bisa melepas rindu. Karena terlalu lamanya kita berpelukan, hingga
aku tak mendengar suara bel masuk. Adit pun segera menghampiriku dan berusaha melepaskan pelukan itu.
“Hey, ayo cepat. Ini sudah bel masuk.” Katanya dengan menarik-narik tanganku yang masih aku lingkarkan di tubuh Ines.
“Iya, iya. Ayo, Nes, kita masuk ke kelas.” Ajakku dengan menarik tangan Ines.
Terlihat Adit dan Ines bertatapan beberapa detik sebelum aku menarik lengan Ines. Amarahku sedikit meluap, entah mengapa. Sepertinya aku tak terima melihat sepasang mata indah yang aku inginkan saling pandang dengan sepasang mata indah lain.
“Anak-anak. Sekarang kita kedatangan murid baru dari Bogor. Ines, masuk, Nak.” Kata Bu Fitri.
Beberapa pasang mata terfokus dengan indahnya paras bidadari itu. Kecuali aku, sepertinya terselip rasa resah. Resah jika hati Adit terbuka kuncinya dengan melihat Ines. Benar aku tak bisa membuka hati Adit dari lalu, tapi setidaknya aku pernah mengobati luka perih pada hatinya. Adit, kulihat matanya yang sedari tadi tanpa kedip melihat Ines yang tengah berdiri memperkenalkan diri di depan kelas. Tak hanya Adit, semua lelaki di kelasku pun demikian. Nampaknya keanggunan Ines telah menyihir batin mereka.
Jam istirahat tiba, lusa aku makan hanya berdua dengan Adit. Mulai detik ini, aku belajar menghargai seseorang. Belajar menerima Ines di tengah-tengah kami. Awalnya aku biasa, memang biasa. Namun, setelah aku merasakan ada yang mengganjal, ialah kala Adit mengelus rambut hitamnya dengan kasar tapi terselip makna mesra di tengahnya hati ini terasa seperti mengeras. Dan aku merasakan sebagai orang ketiga kala itu, bukan Ines sebagai orang ketiga. Hatiku semakin mengeras dan memanas, kala Adit mengkodeku dengan matanya dengan maksud menyuruh aku pergi membiarkan mereka berdua. Sebagai sahabat yang baik aku terpaksa meninggalkan mereka melihat orang yang aku sayang memaksaku pergi dengan tujuan dengan orang lain.
“Ines, aku ke kelas dulu, ya. Ivan memanggilku.” Kataku sembari bangkit dari bangku.
“Aku ikut.” Halus jawabnya.
Aku tinggalkan mereka, sebelumnya aku memberi hadiah gelengan kepala kepada Ines. Aku pergi, berlari, dan meringis menahan perih.
Hari itu, aku tak langsung pulang. Seperti biasa, bukit hijau itu tempat singgahku. Dari kecil aku biasa mencurahkan semuanya, semua baik masalah yang telah mencambuk nadiku ataupun mencium manis nadi ini. Empat tahun lalu, kala ibuku tiada aku tak ikut pergi ke makam beliau. Justru aku ke bukit ini. Menjerit sekeras mungkin, menangis sesesak mungkin, merintih sekuat mungkin. Hanya alam ini yang Tuhan yang bisa membantu semua. Hari itu sampai senja aku disana. Handphone selalu bergetar, tak aku hubris. Karena aku tahu itu pasti dari Adit.
Itu yang sepercik sakit, yang lebih sakit lagi tiga bulan setelah itu. Kala aku tengah menangis, di bukit itu juga. Penyebab tangisan itu ialah ketidaksatuanku dengan Ayah karena Ibu Tiriku. Ayah memarahiku dan mengusirku pergi, karena aku berani menampar ibu tiriku sendiri. Aku berani karena aku benar. Beliau berusaha membakar foto ibuku yang menempel indah di dinding segala ruang secara diam-diam. Aku yang tahu kelakuan busuknya dengan tegasnya menamparnya tanpa satu kata pun yang meluncur dari mulutku. Masalah itu aku coba curahkan dengan Adit. Mulanya, aku memberitahunya agar datang ke bukit karena aku butuh dia. Senja aku datang, hingga tengah malam tak datang juga. Sungguh kecewa, dan sangat kecewa. Esoknya, Ivan cerita kepadaku kalau semalam ia tengah dinner dengan Ines tanpa sepengetahuanku. Mulai dari peristiwa itu, aku sedikit menjauh darinya. Menjauh, aku tahu kesensitifan batinku seberapa, aku tahu perihnya tak dihargai itu seberapa. Aku tahu tingkat ketabahanku.
“Terimakasih Adit, hari-hari lalu sampai kemarin. Aku bahagia punya sahabt sepertimu. Ada di kala ku butuh, ada di kala ku berperih. Jangan lupakan aku kawan. Jangan sontak kala aku setiap hari beberapa mili hilang dari hidupmu, itu semua mungkin karena salahmu. Mungkin. Semoga berhasil untuk kamu dan Ines.” Goresan pensil pada batu besar di bukit itu.
Apa yang aku goreskan benar, beberapa mili aku telah menjauh dari Adit. Hingga pada suatu saat di bukit hijau ini, Adit menemuiku. Di kala senja sepuluh menit lagi menyapa, goresan siluet orange menghiasi pertemuan kami berdua. Adit menatapku tajam dengan mata indahnya yang berbinar, membuat jantungku benar-benar berdebar. Kedua tangannya perlahan mengambil tanganku.
“Aku sayang kamu.” Ungkapnya lembut.
Perlahan luhku menetes mendengarnya. Aku tak kuasa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga tiba-tiba sebuah kalimat meluncur begitu saja tanpa permisi.
“Aku juga sayang kamu.” Lenguhku terengah-engah.
“Yes !’ teriaknya dengan bahagia.
Kata-kata itu membuatku melayang. Seakan aku menjadi seorang wanita yang dilamar seorang pangeran senja itu. Seakan aku meneguk segelas alkohol. Membuatku melupakan kepedihan-kepedihan lalu yang telah dirajut Adit di batinku.
“Shilla, itu yang aku tunggu. Aku tak tahu perasaan Ines seperti apa jadinya. Semoga seperti ini. Aku telah menunggu seorang wanita dan itu Ines. Aku sayang dia Shilla. Terimakasih, ya. Aku pergi dulu, salam buat ayahmu.” Tusukknya kepadaku.
Aku balasnya dengan senyuman kecut. Selepas ia meninggalkanku saat itu, aku di bukit sendiri. Menangis , dan merintih. Seakan ragaku ingin aku terjunka dari bukit ini. Aku kira itu semua kejujurannya yang membuat kepedihan yang telah ia rajut di batinku terlepas sudah karena kalimat indah tersebut.
“A..a..ku tak habis pikir, apa yang ada di pikiranmu. Terlalu tega, iya memang aku ini tak secantik bidadari itu. Aku tak bisa menaklukkan hatimu, karena aku tak bisa jadi yang kau inginkan. Tapi setidaknya, kamu bicara baik-baik mengenai ini. Kamu seharusnya lakukan ini dari dulu, atau lebih baik kamu bercurah tentang rasa sayang palsumu itu. Aku sudah lama hidup di sampingmu. Aku tahu semuanya tentangmu. Kamu butuh aku tak jauh, aku tak melenguh. Aku bahagia jika kau masih butuh aku. Tapi tak seperti ini caranya. Selama bertahun-tahun aku menemanimu ternyata ini yang kau beri. Kepedihan yang amat pekat. Tega. Kamu tega Adit, kamu tega !” sesalku.
“Aku sayang kamu Adit, aku sayang kamu !” teriakku.
Yang pasti, aku sudah mengucapkan apa yang aku rasa selama ini. Bahwa aku sayang Adit. Walau kepedihan itu masih saja menyelimuti batinku, aku coba tenang. Aku coba tabah, suatu saat Adit pasti merasakan apa itu sakit.
Lilis Ambarwati/ XI IPA 2/ SMAN 1 Boyolali, Jln Kates 08 Kode pos: 57316
Iya, aku pernah mendengar itu. Walau hanya dua detik saja terucap, aku akan tetap mengingat itu. Walau faktanya aku menangis, tapi perihnya itu takkan aku hubris. Aku sadar, tak pantas aku hidup di hatimu. Jangankan hidup, singgah semenit saja aku tak bisa dan takkan pernah bisa, karena aku hanya sebutir mutiara hitam yang pekat. Memang aku mutiara, karena aku selalu ada di setiap kau ada, di setiap kau bicara. Iya, benar aku mutiara tapi aku hitam bahkan aku pekat, karena aku bukan seseorang yang pantas ada di hidupmu. Mungkin kau tak menyadari betapa besar, betapa tulus aku menyanyangimu setelah belasan tahun aku berada di hidupmu. Bukan sebagai kekasih atau sahabat karibmu, tapi kurasa aku hanya seseorang yang tak berarti. Jelas tak berarti, sekarang apa kamu sadar dan apa kamu merasakan semuanya. Awalnya aku dan kamu anggap ini semua sebuah persahabatan. Tapi, setelah kau kenal dia, aku kau buang begitu saja. Kau butuh aku, aku mendengarnya aku membantunya. Aku butuh kamu, kau perggi kau lari. Aku tak punya kuasa untuk memarahimu atau melarangmu, karena itu hakmu.
“Hei, Shila. Aku punya sesuatu untukmu.” panggilnya kepadaku.
“Apa, Dit? Apa ini?” jawabku.
Ini terjadi sepuluh tahun yang lalu, aku masih sepuluh tahun Adit pun sama. Kami berada di atas bukit, duduk sembari melihat indahnya panorama dunia. Lukisan itu menjadi saksi apa yang dia ucap kepadaku. Sepatah dua patah kata yang ia susun jadi kalimat bermakna, dan aku anggap itu sebuah promise atau janji.
“Ini aku buat sendiri. Ini untukmu satu, aku juga punya satu. Disimpan, ya. Ini untuk persahabatan kita. Sampai besok kita besar, sampai besok kita menikah, atau kita sudah di surga kita tetap sahabat, kan? Aku janji, aku akan ada di setiap kamu bicara, bahkan menangis aku pasti ada. Aku janji, deh. Kamu juga janji, ya?” ucapnya.
Aku menjawabnya dengan senyum. Karena aku takut tak bisa menjaga janjiku. Dan yang aku takutkan itu terjadi. Ia memberiku sebuah gelang bertuliskan namanya, sampai sekarang masih aku pakai. Tapi, faktanya Adit sekarang 1800 dari ucapannya dari janjinya. Kepedihan itu dimulai kala aku dan Adit berada di bangku SMA.
“Adit, kamu mau ke mana? Tunggu aku !” teriakku.
“Ayo, cepatlah !” balasnya.
“Hey, Adit. Aku mau bicara penting sama kamu, hey, berhentilah! Di kelas kita akan ada murid baru .” teriakku sembari mengejarnya.
Ia berhenti sejenak, aku pun juga. Mungkin ia berpikir tentang murid baru itu, sedangkan aku terengah-engah mengejarnya. Dua menit kemudian, ia menghampiriku dengan senyuman manisnya. Tersirat rasa bahagia pada dirinya. Mungkin ia memikirkan murid baru itu cantik. Maklum, ia terkenal suka memainkan hati wanita.
“Kamu bilang ada murid baru di sini? Siapa namanya? Pasti ia perempuan dan pasti ia cantik. Cepat katakan padaku. ” katanya penasaran.
“Uh..uh. Sabar, sabar, ya. Namanya Ines, dia sahabatku di Bogor. Nanti aku kenalkan ke kamu. Uh, aku capek mengejarmua.” Kataku.
Dia langsung menarik lenganku, dan memaksaku untuk mengikutinya. Candaan Adit kala kami melangkahkan kaki membuatku merasakan hal yang berbeda. Dasar hati ini tersentuh dengan kata-kata lembutnya, syaraf otakku tak kuasa memikirkan sesuatu yang lebih pada diri Adit. Sepertinya hati ini berkata ingin memikilinya walau itu mustahil.
“Shilla ! Aku rindu kamu !” teriaknya sembari lari menghampiriku.
“Ines !” balasku yang juga berlari menghampirinya.
Kami berpelukan karena sudah sepuluh tahun lebih kami tak bertemu. Hanya dengan jejaring sosial kami bisa melepas rindu. Karena terlalu lamanya kita berpelukan, hingga
aku tak mendengar suara bel masuk. Adit pun segera menghampiriku dan berusaha melepaskan pelukan itu.
“Hey, ayo cepat. Ini sudah bel masuk.” Katanya dengan menarik-narik tanganku yang masih aku lingkarkan di tubuh Ines.
“Iya, iya. Ayo, Nes, kita masuk ke kelas.” Ajakku dengan menarik tangan Ines.
Terlihat Adit dan Ines bertatapan beberapa detik sebelum aku menarik lengan Ines. Amarahku sedikit meluap, entah mengapa. Sepertinya aku tak terima melihat sepasang mata indah yang aku inginkan saling pandang dengan sepasang mata indah lain.
“Anak-anak. Sekarang kita kedatangan murid baru dari Bogor. Ines, masuk, Nak.” Kata Bu Fitri.
Beberapa pasang mata terfokus dengan indahnya paras bidadari itu. Kecuali aku, sepertinya terselip rasa resah. Resah jika hati Adit terbuka kuncinya dengan melihat Ines. Benar aku tak bisa membuka hati Adit dari lalu, tapi setidaknya aku pernah mengobati luka perih pada hatinya. Adit, kulihat matanya yang sedari tadi tanpa kedip melihat Ines yang tengah berdiri memperkenalkan diri di depan kelas. Tak hanya Adit, semua lelaki di kelasku pun demikian. Nampaknya keanggunan Ines telah menyihir batin mereka.
Jam istirahat tiba, lusa aku makan hanya berdua dengan Adit. Mulai detik ini, aku belajar menghargai seseorang. Belajar menerima Ines di tengah-tengah kami. Awalnya aku biasa, memang biasa. Namun, setelah aku merasakan ada yang mengganjal, ialah kala Adit mengelus rambut hitamnya dengan kasar tapi terselip makna mesra di tengahnya hati ini terasa seperti mengeras. Dan aku merasakan sebagai orang ketiga kala itu, bukan Ines sebagai orang ketiga. Hatiku semakin mengeras dan memanas, kala Adit mengkodeku dengan matanya dengan maksud menyuruh aku pergi membiarkan mereka berdua. Sebagai sahabat yang baik aku terpaksa meninggalkan mereka melihat orang yang aku sayang memaksaku pergi dengan tujuan dengan orang lain.
“Ines, aku ke kelas dulu, ya. Ivan memanggilku.” Kataku sembari bangkit dari bangku.
“Aku ikut.” Halus jawabnya.
Aku tinggalkan mereka, sebelumnya aku memberi hadiah gelengan kepala kepada Ines. Aku pergi, berlari, dan meringis menahan perih.
Hari itu, aku tak langsung pulang. Seperti biasa, bukit hijau itu tempat singgahku. Dari kecil aku biasa mencurahkan semuanya, semua baik masalah yang telah mencambuk nadiku ataupun mencium manis nadi ini. Empat tahun lalu, kala ibuku tiada aku tak ikut pergi ke makam beliau. Justru aku ke bukit ini. Menjerit sekeras mungkin, menangis sesesak mungkin, merintih sekuat mungkin. Hanya alam ini yang Tuhan yang bisa membantu semua. Hari itu sampai senja aku disana. Handphone selalu bergetar, tak aku hubris. Karena aku tahu itu pasti dari Adit.
Itu yang sepercik sakit, yang lebih sakit lagi tiga bulan setelah itu. Kala aku tengah menangis, di bukit itu juga. Penyebab tangisan itu ialah ketidaksatuanku dengan Ayah karena Ibu Tiriku. Ayah memarahiku dan mengusirku pergi, karena aku berani menampar ibu tiriku sendiri. Aku berani karena aku benar. Beliau berusaha membakar foto ibuku yang menempel indah di dinding segala ruang secara diam-diam. Aku yang tahu kelakuan busuknya dengan tegasnya menamparnya tanpa satu kata pun yang meluncur dari mulutku. Masalah itu aku coba curahkan dengan Adit. Mulanya, aku memberitahunya agar datang ke bukit karena aku butuh dia. Senja aku datang, hingga tengah malam tak datang juga. Sungguh kecewa, dan sangat kecewa. Esoknya, Ivan cerita kepadaku kalau semalam ia tengah dinner dengan Ines tanpa sepengetahuanku. Mulai dari peristiwa itu, aku sedikit menjauh darinya. Menjauh, aku tahu kesensitifan batinku seberapa, aku tahu perihnya tak dihargai itu seberapa. Aku tahu tingkat ketabahanku.
“Terimakasih Adit, hari-hari lalu sampai kemarin. Aku bahagia punya sahabt sepertimu. Ada di kala ku butuh, ada di kala ku berperih. Jangan lupakan aku kawan. Jangan sontak kala aku setiap hari beberapa mili hilang dari hidupmu, itu semua mungkin karena salahmu. Mungkin. Semoga berhasil untuk kamu dan Ines.” Goresan pensil pada batu besar di bukit itu.
Apa yang aku goreskan benar, beberapa mili aku telah menjauh dari Adit. Hingga pada suatu saat di bukit hijau ini, Adit menemuiku. Di kala senja sepuluh menit lagi menyapa, goresan siluet orange menghiasi pertemuan kami berdua. Adit menatapku tajam dengan mata indahnya yang berbinar, membuat jantungku benar-benar berdebar. Kedua tangannya perlahan mengambil tanganku.
“Aku sayang kamu.” Ungkapnya lembut.
Perlahan luhku menetes mendengarnya. Aku tak kuasa mengeluarkan sepatah katapun. Hingga tiba-tiba sebuah kalimat meluncur begitu saja tanpa permisi.
“Aku juga sayang kamu.” Lenguhku terengah-engah.
“Yes !’ teriaknya dengan bahagia.
Kata-kata itu membuatku melayang. Seakan aku menjadi seorang wanita yang dilamar seorang pangeran senja itu. Seakan aku meneguk segelas alkohol. Membuatku melupakan kepedihan-kepedihan lalu yang telah dirajut Adit di batinku.
“Shilla, itu yang aku tunggu. Aku tak tahu perasaan Ines seperti apa jadinya. Semoga seperti ini. Aku telah menunggu seorang wanita dan itu Ines. Aku sayang dia Shilla. Terimakasih, ya. Aku pergi dulu, salam buat ayahmu.” Tusukknya kepadaku.
Aku balasnya dengan senyuman kecut. Selepas ia meninggalkanku saat itu, aku di bukit sendiri. Menangis , dan merintih. Seakan ragaku ingin aku terjunka dari bukit ini. Aku kira itu semua kejujurannya yang membuat kepedihan yang telah ia rajut di batinku terlepas sudah karena kalimat indah tersebut.
“A..a..ku tak habis pikir, apa yang ada di pikiranmu. Terlalu tega, iya memang aku ini tak secantik bidadari itu. Aku tak bisa menaklukkan hatimu, karena aku tak bisa jadi yang kau inginkan. Tapi setidaknya, kamu bicara baik-baik mengenai ini. Kamu seharusnya lakukan ini dari dulu, atau lebih baik kamu bercurah tentang rasa sayang palsumu itu. Aku sudah lama hidup di sampingmu. Aku tahu semuanya tentangmu. Kamu butuh aku tak jauh, aku tak melenguh. Aku bahagia jika kau masih butuh aku. Tapi tak seperti ini caranya. Selama bertahun-tahun aku menemanimu ternyata ini yang kau beri. Kepedihan yang amat pekat. Tega. Kamu tega Adit, kamu tega !” sesalku.
“Aku sayang kamu Adit, aku sayang kamu !” teriakku.
Yang pasti, aku sudah mengucapkan apa yang aku rasa selama ini. Bahwa aku sayang Adit. Walau kepedihan itu masih saja menyelimuti batinku, aku coba tenang. Aku coba tabah, suatu saat Adit pasti merasakan apa itu sakit.
Lilis Ambarwati/ XI IPA 2/ SMAN 1 Boyolali, Jln Kates 08 Kode pos: 57316














0 komentar:
Posting Komentar