FunFiction Oh Sehun
Author POV
“Yya!! aku berangkat sendiri saja” ujar Minhee yang sedang melepon
Yune sahabatnya itu. Minhee tampak terburu-buru. Ia sibuk dengan
mengunyah roti bakarnya.
“Minhee-ah jeongmal mianhae, tadi aku telat bangun, ini saja aku baru
memasang seragamku,Ayolahh, kita telat bersama ya, ne ne??” sahut Yune.
“Yya michyeosseo mana mungkin aku relakan hari pertamaku dengan
keterlambatanku ini bersamamu ha!! Lebih baik aku berangkat sendiri jadi
yang terlambat itu kau KKKK” ucap Minhee terkekeh kecil.
“MWO?? Aigoo, eunggg kita telat bersama ya, aku sudah selesai dengan
bajuku, aku akan menjemputmu, ne. dan mungkin kau tidak tau arah jalan
sekolah baru kita itu” dengan yakinnya Yune menjawab.
“Yya babo-ya aku tetap tidak mau, ini salahmu sendiri kenapa kau
bangun siang sekali, aku tidak mau terlambat di hari pertama kita
sekolah, dan kau kira aku tidak tau jalan sekolah baru kita huh? Tentu
saja aku tau wekkk” ucap Minhee sambil menjulurkan lidahnya yang
walaupun tidak akan bisa dilihat oleh Yune.
“Yya jjinja, tapi…” “Oke oke, daripada kita terus bertengkar tidak
jelas di telefon ini, lebih baik aku duluan ne? Kita akan bertemu
digerbang, Annyeonggg” Minhee menyudahi pembicaraannya dengan Yune dan
cepat-cepat menutup telefon.
Mungkin kalian akan bertanya-tanya kenapa Minhee tetap akan menunggu
Yune di gerbang sekolah, masalahnya adalah Minhee sama sekali tidak tahu
letak kelasnya dimana, dan jika kalian tau, hari ini adalah hari
pertama Minhee dan Yune memasuki masa SMA, dan yang lebih gawat, sama
seperti sahabat-sahabat lainnya mereka begitu kompak, saking kompaknya
mereka sampai tidak mengikuti MOS, Minhee pergi berlibur dengan orang
tuanya, kalau Yune? Ya tentu saja dia berlibur juga dengan orang tuanya,
mereka kan kompak (?) mereka berniat pergi bersama untuk mengecek kelas
mereka, eh, Yune malah mengacaukan semuanya.
***
Minhee POV
Tak perlu berlama-lama setelah berpamitan dengan Orang tua ku aku
segera melangkahkan kakiku keluar rumah dan langsung mengambil
ancang-ancang untuk berlari, yap, tentu saja aku harus berlari, jarak
antara rumahku menuju halte bus sangatlah jauh. Tentu saja aku harus
naik bus, kalau tidak entah apalah yang terjadi.
Aku mulai mengambil posisi untuk lari secepat mungkin (*bayangin
posisi orang yang pengen lomba lari) “1, 2, 3.. hhyaaaaaaaaaa” dan
hitungan ketiga aku mulai berlari menuju halte bus”
***
10 menit kemudian (*ini termasuk lama loh)
“hahhh hahh hahh, sungguh ini sangatlah melelahkan, Yya!! kalau tau
begini, lebih baik tadi aku berangkat bersama appaku saja Haaahhh hahhh
hahhh” ucapku dengan nafas terengah-engah.
Dan disinilah aku sekarang di salah satu tempat yang digunakan untuk
menunggui bus atau tempat pemberhentian bus, yang bernama Halte (*kami
tau thor -_-) , tak perlu berlama-lama aku mulai menduduki kursi halte,
kursi besi panjang yang berwarna hijau gelap.
Aku berniat menunggu bus, sambil menggoyang-goyangkan kakiku, tak
henti-hentinya aku selalu melihat benda bertali coklat kekuning-kuningan
yang melekat anggun di pergelangan tangan kiriku itu.
“Yya kenapa lama sekali, hey Om bus kau tidak tau apa, hari ini kan
hari dimana anak sekolah menduduki sekolah barunya, kau tidak punya
perasaan hiks hiks” eluhku dengan nada haru (?)
“Mana sih busnya, kenapa tidak datang-datang?” Ku lemparkan
pandanganku keseluruh sudut jalan, berniat untuk mencari keberadaan bus
tersebut, sampai akhirnya mataku menangkap sebuah tempat yang kurasa aku
pernah melakukan sesuatu disana, tapi apa?.
Tanpa berpikir panjang, aku berdiri dan kulangkahkan kakiku ketaman
itu, “eungg sepertinya aku pernah kesini, tapi kapan? Apa yang ku
lakukan disini?” taman yang mungkin seluas 1H ini memiliki lapangan
berumput yang mungkin disediakan untuk tempat orang-orang bersepeda,
maupun menggelar tikar untuk picnik.
Disini terdapat pohon besar berdaun rindang, saking besarnya pohon ini mampu meneduhi orang-orang yang sedang picnik disana.
“Kurasa dibawah pohon itu aku bisa rileks selagi menunggu bus sialan
itu yang tak kunjung datang”, kulangkahkan kakiku menuju pohon besar
itu, dan duduk bersandar di bawah pohon itu. “hahhhh segarnya, kenapa
aku merasa sedikit rindu ya dengan tempat ini, mwo, rindu? Mana mungkin
bisa, aku saja belum pernah kesini sebelumnya.” Ucapku dengan raut wajah
yang tak dapat dijelaskan.
Kutebarkan pandanganku keseluruh penjuru taman ini, ada anak-anak
sedang bermain seluncuran, ayunan, bahkan ada yang sedang berlari-lari
mengejar sepeda temannya, hahaha mereka lucu sekali.
Author POV
Mungkin para readers semua berpikiran sama dengan Author Minhee
amnesia setelah kecelakaan yang dialaminya 1 bulan yang lalu, pasalnya 1
bulan yang lalu Minhee mengalami kecelakaan bersama namjachingunya yang
bernama kai, sebuah truk pengangkut kayu beton tak sengaja hampir
melindas mobil audi hitam milik namjachingunya.
FLASHBACK
Saat itu hari minggu, pagi harinya Minhee beserta Kai namjachingunya
pergi kesesuatu tempat dimana mereka akan mengadakan hari anniversarynya
yang ke-2, ketika mereka asyik bercanda riang didalam mobil, tanpa
sadar dari arah yang berlawanan muncul truk dengan kayu-kayu beton besar
di baknya yang sedang dikendarai oleh pria paruh baya yang sedang
mengantuk.
Kai yang menyadari hal itu, hanya bisa mengklaksonkan mobilnya ‘TIINNNNNNNNNN’ pengemudi
tersebut tersentak kaget, sadar akan apa yang ia lakukan sekarang
pengemudi tersebut membanting stirnya kekiri, kayu-kayu beton yang
sedang ditampung oleh truk tersebut jatuh berserakan dijalanan , dan
anehnya hanya mobil Kai lah yang tertimpa.
2 kayu beton berdiameter 100 cm itu menimpa mobil kai,kayu beton itu
menimpa bagian depan mobilnya, dalam kecelakaan itu, kayu beton tersebut
tepat sekali menimpa bagian atas mobil dimana tempat kai menyetir, kai
mengalami patah tulang di beberapa bagian tubuhnya, dan mengalami
pendarahan yang sangat dahsyat dan mengakibatkan dirinya harus
kehilangan nyawa.
Sedangkan Minhee,ia mengalami masalah dengan kepalanya, yang
mengakibatkan dirinya terkena amnesia, menurut sang dokter Minhee hanya
bisa disembuhkan jikalau dirinya mengalami kecelakaan yang sama, dan
pastinya keluarga Minhee tidak ingin kejadian tersebut terulang kembali,
terpaksa mereka hanya bisa memulihkan ingatannya dengan cara yang
mungkin sangat lama.
Satu-satunya teman Minhee yang sangat tau tentang seluk beluk
kehidupannya yaitu Yune, mereka berdua sengaja memilih sekolah yang
sama, orang tua Minhee memohon sangat kepada Yune agar dapat
menyembuhkan ingatan Minhee, tetapi tidak dengan kejadian yang sangat
memilukan itu.
Mereka semua tidak ingin mengatakan kalau sebelumnya Minhee mempunyai
seorang namjachingu, tentu saja mereka mempunyai niat baik dalam hal
ini, mereka tidak ingin membuat Minhee kacau, dan mereka tau jika Minhee
mengetahui semua itu, dia akan frustasi dan Minhee adalah tipe orang
yang tidak berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu, dan kalau Minhee
sampai tau, dia akan melakukan hal yang tidak-tidak, seperti menyusul
Kai di surga sana. (*maksudnya matii ) Dan taman itulah tempat dimana
pertama kalinya Kai menemukan Minhee.
FLASHBACK END
Minhee POV
“aku memang amnesia, tapi Yune babo itukan sudah membantu memulihkan
ingatanku, dan jika aku mempunyai kenangan disini mana mungkin Yune
tidak memberitahukanku soal taman ini.” Ucapku dengan pandangan mataku
yang masih menyebar keseluruh pelosok taman ini.
“aishhhh, mungkin hanya perasaanku saja” aku menggeleng-gelengkan kepala untuk membuang pikiran itu.
‘TIINNNN TINNNNN’
Tak lama kemudian bus yang kutunggu-tunggu akhirnya datang juga.
Klakson bus itu terdengar jelas ditelingaku. “yeyyy, busku sudah datang…
busku sudah datang…” saking senangnya ku buat kata-kataku itu seperti
irama lagu anak-anak.
Kemudian kulangkahkan kakiku dengan riang menuju halte bus, baru
beberapa langkah bus itu menancapkan gasnya lagi “Yya babo-ya!!! Tunggu
akuuu, heyy mana bisa kau tinggalkan yeoja manis sepertiku, aku mau
kesekolahhh.” Ucapku sambil berlari terbirit-birit menuju halte bus.
Dari pohon besar itu menuju halte, tanahnya memang sedikit agak
miring. Aku berlari tatih, rumput dilapangan itu sedikit licin, ditambah
lagi jalanan yang menurun, kondisi yang sangat tidak baik untuk
berlari.
Saking bersemangatnya, rupanya tali sepatuku belum terpasang dan
akibatnya kaki kiriku menginjak tali sepatu kananku, dan sesuai
keinginan readers aku tersungkur ditengah-tengah lapangan itu, lebih
parahnya lagi, kok bisa-bisanya aku menjatuhkan harga diriku didepan
anak-anak kecil. Tanpa larangan dari siapapun anak-anak itu semua
menertawaiku.
“Aishhh, appo..” rintihku sambil memegangi sikuku yang sedikit
tergores itu. “Yya dasar bus sialan, hey om bus lihatlah akibat dari
kelalaian mu ini, yeoja tercantik, terhebat, terpintar, termanis, Shin
Minhee ini jatuh dengan memalukan ditengah-tengah taman bermain hiks
hiks” eluhku, dengan terus memegangi lututku yang perih ini, dejavu. itulah yang kurasakan sekarang
“hahaha nuna itu tidak tau malu, bisa-bisanya terjatuh ditempat seperti ini hahaha” ucap
salah satu dari mereka “Teruslah tertawa! Jangan salahkan aku jika
mulut kalian tersedak lalat” sebenarnya tidak seharusnya aku mengatai
anak kecil, apa boleh buat, aku terlanjur kesal dengan mereka.
Dewi fortuna sepertinya sedang berpihak kepadaku, benar kataku salah
satu dari mereka tadinya sedang tertawa lebar melihat adeganku ini,
tiba-tiba memegangi lehernya, dia tersedak lalat *waduhh.
Ia memegangi lehernya seperti orang tercekik, “aigoo mukanya memerah”
aku terkejut melihat muka anak itu, apa salahnya menelan bulat-bulat
lalat itu, sebelum lalat itu membunuhnya, dasar anak bodoh.
“dan siapa itu? Eommanya? Huhh aku harus cepat-cepat lari sebelum
eommanya mengira aku berniat membunuh anaknya” kulihat eomma dari anak
yang tadi itu berlari terbirit-birit kearahnya dengan sigap kulangkahkan
kakiku untuk berlari menuju halte.
Sesampainya dihalte aku mulai mengatur pernapasan, pasalnya dari tadi
pagi kerjaanku hanya berlari-lari saja. “Aigoo ada apa denganku ini,
kenapa kata-kataku tadi akan benar terjadi, aigoo aku trauma” ucapku
sambil mengelus-ngelus dadaku, tak kusangka tubuhku sudah berkeringat
dingin, aku takut anak itu akan kenapa-kenapa.
“Aishh lupakan. Toh eommanya tidak tau kan dimana aku sekarang.” Jawabku enteng mencoba menetralisirkan rasa gugupku.
“Loh kenapa aku takut? Menyentuhnya saja tidak, mana mungkin aku
disebut seorang pembunuh. Hahaha ada-ada saja kau ini Shin Minhee (?)”
ucapku yakin sambil memukul mukulkan kepalan tanganku kekepalaku.
“Aishh aku sampai lupa, aku harus kesekolah dengan apa? Aigoooo,
eotteokkhae???” ucapku gelisah karena tak satupun kendaraan yang lewat
disekitar sini yang bisa kutumpangi. Aku sedikit berpikir sambil melipat
tanganku dibawah dada. Tak lama kemudian muncullah sebuah lampu merah,
eh kuning di atas kepalaku ini.
“Yya!! IQ ku kan tinggi kenapa aku tidak berpikir seperti ini sejak
tadi, huhhh dasar babo!!” gerutuku kesal yang kemudian menghentakkan
sebelah kakiku ketanah. “akukan bisa jalan kaki kenapa aku harus
repot-repot mencari kendaraan lain,” setelah menemukan jalan keluar,
eungg sebenarnya tidak juga sih. lampu diatas kepalaku mati pertanda aku
sudah selesai dengan ideku.
Dengan kaki lesu perlahan kumemulai perjalananku ini, “huhhh disini
sepi sekali, kemana semua orang? Saking sunyinya aku sendiri bisa
mendengar suara gesekan sepatuku ini dengan jelas.” Gerutuku.
“eungg kira-kira ini jam berapa ya?” kataku yang mulai menanyai
diriku sendiri, kuangkat lenganku untuk dapat melihat jelas kearah jam
tanganku. “MWO??? Aishhh, jam 7 kurang 5 menit????? Berarti 5 menit lagi
gerbang sekolah akan ditutup!!! Ahhh anii!!!!! Aku tidak mau, sebaiknya
kupercepat langkahku ini, ahhh tidak, sebaiknya aku berlariii.
HYATTTCCHHH” tanpa banyak bacot (?) langsung saja aku berlari dengan
kecepatan penuh.
***
Author POV
“Sehun-ah…”
Merasa namanya dipanggil namja bertubuh tinggi yang dipanggil Sehun
itu menoleh kearah datangnya suara, membuat beberapa helai rambutnya
bergoyang alami, makin mendukung ketampanan wajahnya.
“Waee eommaa??” tanyanya sambil merengut kecil.
“Nanti sepulang sekolah, langsung pulang ke rumah, ara?!! Jangan
keluyuran kemana-mana ya!!” balas eommanya sambil merapikan kerah
seragam anak semata wayangnya itu.
“Aku kan tidak pernah keluyuran, tapi nanti aku latihan basket
bersama Chanyeol di lapangan sekolah.” Kata Sehun tak mau kalah.
“Andwae!! Kau tidak boleh kemana-mana. Pulang sekolah kau sudah harus
pulang kerumah. Bantuin eomma beres-beres rumah. Kan kita ini baru
pindah, kau ini bagaimana sihh ckckck”
Sehun mengerutkan kening, ia merasa keberatan. “Yyaa eomma tapi aku
ini kan namja, bagaimana mungkin namja ikut beres-neres rumah, eomma ini
ada-ada saja.”
“Wae,wae,wae?? Kenapa kalau memangnya kau namja? Atau jangan-jangan
kau mau berganti kelamin menjadi yeoja kah?? Hahaha” ucap eommanya
menggoda.
“Yya! eomma aku seriusss, aku boleh ikut latihan basket ya??
Ne,ne,ne,?” pinta Sehun sambil memunculkan puppy eyes dan aegyonya itu,
berharap eommanya berubah pikiran.
“Andwae!! Sekali tidak tetap tidak!! Kau tidak kasihan apa dengan
eommamu ini, kau itu anak eomma satu-satunya, kalau bukan kau siapa lagi
yang akan membantu eomma huh?? Kan kau tau, eomma belum sempat mencari
pembantu baru.” ucap eommanya kembali dengan nada haru #loh? (*gak jadi
deh harunya).
Sehun langsung terdiam dan langsung membungkukkan badannya 90 derajat
kemudian menegakkan badannya kembali sambil mengangkat tangannya
memberi hormat. “Siap!! Aku Sehun anak Yoona eomma dan Donghae appa siap
menjalankan tugas.
“Itu baru yang namanya anak eomma..”ucap eommanya sambil mengelus-ngelus kepala Sehun.
“Sehun-ah kajja!! Appa sudah terlambatt” ucap appa Sehun dari dalam mobil.
“Ne appa!” dengan gerakan cepat, Sehun mengambil tas dan
menyampirkannya di bahu kanannya. “Annyeong eomma!!” ujarnya sambil
mencium kedua pipi eommanya.
Setelah itu, dengan cepat ia berlari masuk kedalam mobil, kemudian duduk di sebelah appanya yang ada dibangku pengemudi.
“Yya!! kau ini kalau kau seperti ini terus, lama-lama akan appa tinggal pergi saja!!” ancam appanya sambil menjalankan mobilnya.
“hehehe Jeongmal mianhae appaaa, Tadi itu eomma yang membuatku
terlambat.” Ucap Sehun membela diri. Dengan gesit ia menyalakan tape di
mobilnya, dan mendengarkan lagu-lagu Taetiseo (bukan taetiseo *kesalahan teknis -_-) EXO
boyband favoritnya, yaaa bukan seperti kebanyakan yeoja yang selalu
mengelu-elukan boyband asal korea tersebut, Sehun hanya menyukai lagunya
saja, baginya seorang penyanyi itu yang terpenting adalah lagunya bukan
ketampanan/kecantikannya.
***
Sehun POV
Kuperhatikan pemandangan diluar jendela mobil. Memperhatikan
satu-persatu rumah yang kulewati. Ada rasa aneh yang kurasakan di hati
ini. Hangat, ya seperti ada matahari baru yang menghangatkan hati ini,
sudah lama aku tidak menikmati suasana seperti ini.
Waktu umur ku 5 tahun, tepatnya 11 tahun yang lalu aku pindah ke
amerika, mengikuti appaku yang pindah tugas disana, sekarang karena appa
sudah kembali ditugaskan diseoul otomatis aku kembali kekampung
halamanku, beruntung rumah lamaku belum dijual, karena selama aku di
amerika rumah tersebut ditempati oleh nenekku.
Disana aku hidup di lingkungan yang berbeda, sampai-sampai aku sempat
melupakan teman-teman masa kecilku. Hanya satu orang dihati ini yang
tak akan pernah aku lupakan, dan sampai kapanpun itu.
Dan satu hal lagi yang membuatku tidak bisa melupakan orang itu.
kupegang kancing tasku yang terikat tali sepatu berwarna biru tua
miliknya. Ya ini miliknya, aku ingat, saat itu…
Author POV
FLASHBACK
“tthehun-ah, kenapa kau termenung seperti itu? Tidak baik seperti itu
disore hari seperti ini.” Ucap salah satu teman yeoja Sehun, tthehun begitulah ia memanggilnya, ia hanya tau nama namja itu tthehun, baginya hanya itulah nama temannya itu.
Yeoja manis ini bernama Shin Minhee, Sehun dan Minhee sudah menjadi
teman lama, yaa bisa dikatakan, Minhee adalah teman pertama yang
dimiliki Sehun, dan begitu pula dengan Minhee, Sehun adalah teman
pertama yang dimiliki Minhee.
Mengingat umur mereka masih 5 tahun, wajar-wajar saja mereka membuat
nama panggilan sendiri. Nama Sehun yang semula nama panggilannya Sehun,
diubah oleh Minhee menjadi tthehun, dan begitu pula sebaliknya, nama Shin Minhee yang semula nama panggilannya Minhee, diubah oleh Sehun menjadi Minnie.
“eoh, Minnie-ah kau lewat sini?? Kau mau kemana?” tanya Sehun dengan
nada terkejut mengetahui Minhee berjalan melewati teras rumahnya. “aku
ingin bermain tapi tidak ada yang bisa diajak bermain.” Ucap Minhee
dengan nada lemas.
“Minnie-ah jangan sedih, kan ada aku disini, kenapa kau tidak
mengajakku saja?” ucap Sehun sambil bangkit dari duduknya dan
menghampiri Minhee. “Habisnya kau tadi melamun, terus kukira kau patung”
balas Minhee dengan polosnya.
“hahaha mana mungkin ada patung yang setampan ini.” Sehun tertawa melihat kepolosan temannya ini.
“ayo kita bermain” ajak Sehun sembari menarik lengan yeoja disampingnya itu menuju taman didekat halte bus.
***
Setelah beberapa lama kemudian, akhirnya mereka sampai di taman
seluas kira-kira 1H ini. “Kenapa kita main ketempat sejauh ini
ttehun-ah” ucap Minhee dengan nada khawatir.
“Kita akan bermain petak umpet, jadi ini tempat yang cocok untuk
bermain permainan ini, kau bisa sepuasnya bersembunyi disini.” Ucap
Sehun menjelaskan. “Ooh” Mulut Minhee sempurna membentuk huruf’O’ sambil
menganggukkan kepalanya bertanda ia mengerti akan perkataan Sehun tadi.
“Baiklah, dipohon ini aku akan mulai menghitung.” Sehun memberikan
aba-aba kepada Minhee, agar ia bersiap-siap untuk mencari tempat
bersembunyi. Dipohon besar ini mereka akan memulai permainan, yaa
walaupun tanahnya sedikit miring.
Sehun mulai menutup kedua matanya sambil menghitung maju “Baiklahh, 1
, 2, ….’’ belum selesai Sehun menghitung tiba-tiba saja ia mendengar
suara yeoja yang terjatuh, dengan gerakan gesit ia menoleh kebelakang,
untuk memastikan Minnienya itu tidak kenapa-kenapa.
“auww appo-yo,” ucap minnie meringis kesakitan karena lututnya
sedikit tergores. “aigoo, Minnie-ah kau tidak apa-apa?” ucap Sehun
dengan sangat khawatir, ia takut kalau Minnienya itu akan jatuh sakit,
dan parahnya lagi ditaman itu, tak seorangpun yang ia kenal, jika Minnie
jatuh sakit siapa yang akan menolongnya.
“Kau, kenapa bisa terjatuh?” tanya Sehun yang masih super duper
khawatir, “Tadi aku lupa mengikat sepatu, dan tanah ini juga miring jadi
aku tidak sengaja tersandung tadi.” Ucap Minnie yang mulai menghentikan
tangisannya itu.
“tapi yang penting lukamu itu tidak terlalu sakit kan?” tanya Sehun “Ne, sekarang sudah baikan” ucap Minnie membalas.
“Baiklah, sini biar aku ikat tali sepatumu” ucap Sehun sambil
mengambil tali sepatu Minnie yang berwarna biru tua itu, sambil
memutar-mutarkan tali itu, Sehun mengingat-ingat kembali simpul tali
yang diajarkan oleh eommanya kemarin.
“eungg bagaimana ya??” “Ee seperti ini tidak ya??” “Eh, bukan seperti
ini mungkin?? Aduhh!! Aku lupa, Minnie-ya aku tidak bisa mengikatnya,
dilepas saja yah??” pinta Sehun sambil melepaskan tali sepatu minnie
dari lubangnya satu persatu.
“nahh, sekarang kau bisa berlari, tapi talinya biar aku yang pegang
ya??!!” Ucap Sehun sambil memasukkan tali sepatu tadi kedalam saku
celananya.
“baiklah, kita mulai lagi” “1… 2… 3… 4… 5… 6… 7… 8..” hampir selesai
Sehun menghitung tiba-tiba dari belakang ada yang memanggilnya.
“Sehun-ah kajja kita pulang kita harus segera bersiap-siap” ucap
wanita yang masih cukup muda itu, yap itu eomma Sehun. “Tapi eomma aku
sedang..” belum selesai Sehun bicara eommanya langsung saja
menggendongnya.
“jangan banyak bicara appa sudah menunggu kita.” Ucap eommanya lagi,
kali ini Sehun tidak bisa melawan. Tapi didalam hatinya ia merasa
bersalah, mana mungkin ia bisa membiarkan Minnie sendirian disana, siapa
yang akan menemukannya? Apa dia baik-baik saja disana? Sehun hanya bisa
menangis dalam hati. Sekarang hanya tali sepatu itulah satu-satunya
kenangan Minnie yang bisa Sehun bawa. Minnie-ya mianhae
FLASHBACK END
Sehun POV
Saat itulah aku terakhir kali bertemu dengannya, aku ini bodoh atau apa ya? Kenapa aku tidak mengetahui nama aslinya, Minnie nama itulah yang aku ingat, bagaimana mungkin aku bisa mencarinya kalau nama aslinya saja aku tidak tau.
Aku saja tidak tau, apakah Minnie masih tinggal dirumah yang sama
atau sudah pindah. Baru kemarin aku pindah kesini lagi, jadi aku belum
sempat mengelilingi kompleks.
“Yya!! kau melamun?? Ada apa?”tanya appaku, ahh appa ini mengagetkanku saja. “Ahh ani, gwaenchanayo”
Appa kembali melirikku.”Ingat masa-masa kecil ya?? Kan kau dulu sering bermain bersama teman-temanmu disore hari, ya kan?
Huh? Appa tau dari mana? Padahal kan appa selalu pulang diatas jam 7 malam, “Appa tau dari mana?” tanyaku bingung.
“Appamu ini kan hebat, apa saja bisa appa ketahui, appa saja tau
celana dalam yang kau pakai sekarang berwarna apa, hahaha” Yya!!
bisa-bisanya appa mengejekku seperti itu.
“Ihh appa ini ada-ada saja, aku serius appa!!” ucapku dengan
mendengus kecil. Atau jangan-jangan eomma yang cerita, ahhh pasti!!
Pasti eomma yang cerita.
“Paling-paling eomma yang cerita, benarkan??” appa tergelak, hahaha wajahnya lucu sekali.
“Appakan punya banyak mata-mata” balas appaku yakin, huh dasar orang
tua, pandai saja mencari-cari alasan. “Paling juga eomma mata-matanya..”
“HAHAHA tau saja kau ini” ucap appa tertawa lepas, akupun tersenyum puas.
Inilah salah satu kebanggaan mempunyai orang tua yang gokil, dan bisa
diajak bercanda, walaupun aku anak tunggal aku tidak suka
dimanja-manja, makanya orang tuaku dari dulu hingga sekarang tidak
memanjakanku.
Disaat wajahku masih menyisakan senyum, jauh didepanku , mataku
menangkap sosok yeoja dengan rok coklat dan blazzer kuningnya (*modelnya
sama dengan seragam Seoul Of Performing Art High School) sedang
berlari. Wajahnya penuh dengan keringat. Rambutnyapun sudah setengah
basah.
Rasa penasaranku tergelitik. Begitu mobilku melaju melewati sosok
yeoja itu, aku memperhatikannya sampai menoleh kebelakang, ingin terus
melihatnya.
“Wae Sehun-ah..” tanya appaku bingung.
Akupun menoleh. “Mwo?? Eohh gwaenchanayo appa” balasku.
Pandanganku mulai mengarah lurus kedepan kembali. Tapi baru beberapa
detik, aku tetap tidak bisa menghilangkan rasa penasaranku. Perlahan
kulirik kaca spion samping. Tanpa sadar, ujung bibirku tertarik sehingga
membuatku tersenyum begitu melihat sosok yeoja tadi.
“Lucu sekali yeoja itu, ia juga manis…”














0 komentar:
Posting Komentar